Pearls of the Past

بسم الله الرحمن الرحيم 
Assalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh


The Past is Dead

I used to believe that the past is dead.
That the past is just a mere memory, waiting to be forever forgotten as time passes by.
A data in our long-term memory that degenerates slowly as we continue to generate new memories.... a happier memory.

However, that is not possible.
That "happier memory".

It isn't possible if we choose to fully repress and forget the past.
Because the past is history, and history tends to repeat itself.
Most especially if we do not learn from it.

Why is it Always Me?

Have you come across a time (or times) in your life where you ask yourself that question?
Why do things like this keep happening to me?
Why? Why? Why?

Instead of asking why, try asking yourself: why not?
If it keeps occurring, then there most probably have been things you're doing now that are similar to what you did in the past.

History, however long gone it may have been, teaches us about the future.
Yes, there are some memories that we prefer not to remember. Things that have hurt or tainted us in the past.

But I guess no matter how bad a memory is, always take the lessons that come with them. Things in the past where you made a mental note saying, "I will not do this again", or "I'll avoid this in the future", etc. Seems like these types of memories hold a greater lesson, because if it has hurt us it the past, we surely wouldn't want them to be repeated, yes?

From a Grain of Sand

A grain of sand, when it enters an oyster, irritates it. Hence, to protect itself from the irritation, the oyster will coat the sand with layers upon layers of nacre (pronounced nay-ker) a.k.a. "mother of pearl". Eventually, the layers will turn the grain of sand into a pearl. (source)



Bad memories, hurtful memories, and sad memories... they are the grains of sands in our life.
If we learn from them, inshaAllah, these memories will become the pearls of our lives. One day you may think: "if that [insert bad memory here] didn't happen to me, I may not be where I am now".

Remembering the Past

However, there is a difference between remembering and dwelling in the past.

When you remember the past, you remember the mistakes you may have made, and use it as a guide to tread carefully upon the new paths of life. You use it to move forward towards the future.

Dwelling in the past, however, is putting yourself in the past, regretting everything. You don't move forward in life. This is unhealthy, my love. Don't allow the past to become your present and future. Allah did not create us to live in the past. In fact, He created the past for us to learn from it.

"And We made them (a people) of the Past and an Example to later ages." 
(Az-Zukhruf:56)

So, as long as we are still living, keep moving forward. Learn from the past and keep on moving, inshaAllah.



Well, that was a long one.
What triggered this post were actually these:


They're my old diaries!
The first one dates back to 2004.
That was..... almost 10 years ago!SubhanAllah...

Ehm, tetiba extra ceria pula post ni. hehee. Teruja jumpa emoticons yang "comel momel" ni.

I guess that's all for now.
May this post be of some benefit to you in any way, inshaAllah.

Allahua'laam.
Assalaamu'alaikum.

Kisah Air Teh

بسم الله الرحمن الرحيم



Al Kisah

"Abang!", Ali memanggil pelayan.
Tekaknya terasa dahaga.

"Ye?", pelayan tadi tiba di sebelahnya.
Hmm, takdelah abang sangat. Lebih kurang je rasanya, fikirnya.

"Er, teh ais ada?"
"Ada."

"Er... kedai ni guna teh cap apa ye?"
Pelayan tadi terdiam seketika.
"Teh Boh."

"Oh... er, susu pula guna cap apa ye?"
Pelayan tadi memandang ke arah Ali. Kepalanya condong sedikit.
"Susu Dairy Champ."

"Oh.. Okey, okey..."
Sabar juga brader ni dengan aku, cetus hati Ali.

"Hah, oklah. Kasi saya air kosong satu ye." kata Ali sambil tersengih-sengih.
Pelayan tadi memandang tepat padanya. Mungkin dalam hatinya sedang membara.
Namun tiada kata-kata kesat yang keluar dari mulutnya. Dia terus ke belakang untuk mengambil air Ali.

Antara Mahu dan Perlu

Apa lah Ali ni.. tanya macam-macam tentang teh ais, tiba-tiba order air kosong pula.
Menyusahkan pelayan tu je...

Sebenarnya, apa yang kita tak tahu, Ali ni ada diabetes. Dia tak boleh minum air manis.
Tapi biasalah, sebagai insan berhati lembut, hati yang mudah dibolak-balikkan, hati yang terkadang tewas dengan nafsu, dia terasa ingin minum air teh ais.

Namun, hati yang lembut tu masih tabah. Dia tak tertewas dengan nafsu. Dia tahu air teh ais tu, walaupun enak dan memikat, ia tak bagus untuk diri dan kesihatan dia.

Air kosong pula, walaupun terasa kurang memikat, ia banyak mendatangkan manfaat. Lebih-lebih lagi untuk Ali yang mengahadapi diabetes.

Walaupun yang dimahukan adalah teh ais yang sejuk dan manis, tapi Ali tahu, bahawa yang diperlukan adalah air kosong yang melegakan.

Dia Lebih Mengetahui

Begitu jugalah diri kita.
Bila diberi pilihan, pilihlah yang terbaik untuk diri di dunia, dan akhirat. Yang bermanfaat untuk jangka masa pendek, dan juga jangka masa panjang.

Dah semestinya, yang lebih Mengenali kita dan lebih Mengetahui apa yang terbaik untuk kita adalah Allah. Mintalah petunjuk dari Allah. Serahkan hati yang bersih kepadaNya untuk didorong ke arah yang Dia redha.

Kerana, walaupun mungkin hati kita lebih tertarik dan terpikat dengan sesuatu perkara, belum pasti ia yang terbaik untuk kita. Seperti firman Allah dalam surah al-Baqarah, ayat 216:

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Mintalah petunjuk dari Allah.
Semoga Dia bimbing hati kita, dan permudahkan urusan kita untuk pilihan yang terbaik yang mampu mendekatlah diri kita padaNya, inshaAllah.



Allahua'laam.
Assalaamu'alaikum.

Maa Fi Qalbi Ghairullah?

بسم الله الرحمن الرحيم 
Assalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh



"Boo!"
Seorang sahabat menepuk bahu dari belakang.
Terkejut sekejap.
Terkejut dalam diam.
Lalu saya menoleh ke arahnya.

Dengan wajah tersipu, dia menerangkan, ada sebabnya kenapa dia berbuat sedemikian.
Katanya, kalau kita nak tahu apa/siapa yang sentiasa di hati dan fikiran kita, kita tengok nama apa/siapa yang kita sebut bila terkejut.

Selalunya kalau dikejutkan, orang akan sebut, "Oh mak!".
Tak kurang juga yang menyebut kata-kata kesat dan cacian. (kalau awak golongan ni, cubalah kurangkan/elakkan ye. Tak baik... Nak Allah sayang, kan? :)  )
Nampak jelas apa yang bermain di hati dan fikiran.

Katanya, dia kagum dengan mereka yang dengan pantas menyebut "Allah".
Allah di bibir, Allah di fikiran, dan Allah di hati.

Jadi, kelakuannya adalah untuk tahu apa/siapa yang terpahat di dalam hati dan fikiran.
"Experiment" yang menarik.
Mampu membuat kita muhasabah dan perbaiki diri dan hati.

Semoga hati-hati kita sentiasa disinari iman dan taqwa kepada Allah,
dan fikiran kita segar dengan zikrullah,
dan bibir kita basah dengan kalam suci Allah.

InshaAllah
Allahua'laam.

Assalaamu'alaikum.